10 Karakter Pendidik Sukses

IMG20180328192459

Dalam kajian rutin An Nahl Islamic School, masih berseri tentang Mencetak Generasi Rabbani, yang disampaikan secara gamblang oleh Ustadz Abu Ihsan al Atsari, ini bagian yang juga sangat penting dalam proses pendidikan, karena karakter pendidik merupakan faktor utama pendukung berhasilnya tarbiyah anak.

  • Ikhlas

Keikhlasan dalam perkataan dan perbuatan termasuk fondasi keimanan. Selain mendatangkan ridho Allah, ikhlas akan meneguhkan hati saat ujian menimpa. Dengannya, kita tetap lapang bagaimanapun hasil yang diraih setelah berusaha maksimal dan senantiasa berdoa.

  • Bertakwa

“Menjaga agar Allah tidak mendapatimu pada perkara yang Dia larang, dan jangan sampai tidak mendapatimu pada perkara yang Dia perintahkan”

Menjaga diri dari azab Allah dengan merasa selalu berada dalam pengawasanNya, teguh menapaki jalan yang Dia gariskan baik saat sendiri maupun di hadapan orang lain.

Berhias dengan ketakwaan akan menjadi panutan secara langsung dalam tarbiyah anak-anak kita. Salah satu janji Allah bagi mereka yang takwa adalah memberi rezeki dari arah yang tak disangka-sangka. Anak shalih adalah rezeki. Semoga dengan sebab takwa kita, Allah memberikan rezeki berupa anak shalih kepada kita.

  • Berilmu

Berbekal ilmu, utamanya tentang konsep dasar pendidikan dalam Islam, adalah keharusan. Dengannya pendidik menjadi alim yang bijak, meletakkan sesuatu pada tempatnya, proporsional dalam memberikan materi pengajaran.

Mendidik dan memperbaiki karakter dengan berpijak pada dasar-dasar yang kokoh, dengan ajaran AL Quran dan sunnah, memberikan keteladanan agung dari Nabi shalallahu alaihi wasalam dan para Sahabat. Semuanya bisa mengalir dari lisan dan sikap pendidik jika membekali diri dengan ilmu.

  • Bertanggung Jawab

Rasa tanggung jawab akan mendorong pendidik untuk berupaya menyeluruh mengawasi dan memperhatikan pembentukan karakter anak dari sisi jasmani maupun rohaninya, dan dalam mempersiapkan kepribadian anak dari sisi mental maupun sosialnya.

  • Sabar dan Tabah

Menghadapi tantangan dalam mendidik anak, baik tantangan dari dalam diri kita sendiri maupun dari luar lingkungan, hendaknya pendidik tidak menanggalkan ketabahan dan kesabaran.

Hikmah pujian Rasulullah shalallahu alaihi wasalam kepada Asyjaj Abdul Qois : “Sesungguhnya pada dirimu terdapat dua sifat yang disukai Allah, yaitu ketabahan dan ketelitian.”

  • Lemah Lembut dan Tidak Kasar

Inilah sifat yang Allah cintai. dan disukai manusia. Karena pada hakikkatnya setiap jiwa menyukai kelembutan. Rasulullah sosok pendidik yang penuh kelembutan. “Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan Dia menyukai kelemahlembutan dalam segala urusan.”

Sifat lemah lembut membuat anak menjadi nyaman dan mudah menerima pengajaran. Secara tidak langsung sifat ini mewarnai karakter anak dan insya Allah akan menurun padanya dengan sendirinya.

  • Penyayang

Perasaan sayang menjadi penghangat suasana dan menjadikan proses pengajaran menyenangkan. Kunci kesuksesan Rasulullah dalam mendidik anak adalah beliau ramah dan penyayang sehingga memberi kesan mendalam bagi orang lain.

  • Lunak dan Fleksibel

Sabda Rasulullah : “Permudahlah dan jangan membuat sulit, berikanlah berita gembira dan janganlah kalian membuat orang lain lari.”

Aisyah ra, “Tidaklah Rasulullah dihadapkan pada dua pilihan kecuali beliau akan memilih yang paling ringan (mudah), selama perkaranya bukan merupakan dosa.”

“Maukah kalian aku beri tahu tentang orang yang haram bagi neraka atau neraka haram baginya? Neraka itu haram atas setiap orang yang mudah dekat dengan orang lain, lunak dan mudah bergaul (supel).”

Hal serupa berlaku, pendidik bersikap seimbang dan proporsional. Tidak terlalu berlebihan tapi juga tidak menggampangkan.

  • Tidak Mudah Marah

Perasaan anak sangatlah peka. Anak dapat membedakan mana nasehat yang didorong kemarahan dan mana yang didorong oleh kemarahan. Anak yang biasa dididik dengan kekerasan dan kemarahan akan kebal dengan nasehat dan gamang dengan kelemahlembutan.

  • Dekat namun Berwibawa

Pendidik yang sukses adalah yang benar-benar dekat di hati anak-anak didiknya. Anak tidak takut terhadapnya melainkan mereka sayang, hormat, dan segan melanggar perintah dan kata-katanya.

Kita melihat Nabi senantiasa dekat dan akrab dengan anak-anak. Namun kedekatan personal ini tidak membuat mereka berani berbuat semaunya, tanpa bisa diatur. Sebaliknya, setiap nasehat dan petuah beliau menghunjam begitu dalam di hati mereka. Dengan kata lain, Rasulullah adalah pendidik yang akrab lagi penuh wibawa.

 

 

Advertisements

Gempa Bumi

images (1)

Hari ini, Selasa 23 Januari 2018, terjadi peristiwa yang tak hanya menyentak tapi juga menyadarkan. Betapa manusia memang sangat lemah saat berada dalam keadaan genting, yang tak ada penolong selain berharap pada belas kasih Allah.

Ya, gempa bumi terjadi di Lebak Banten siang ini, dengan kekuatan 6.4 SR, cukup kuat mengguncang kota-kota di sekitarnya dengan efek yang beragam. Termasuk sekolah kami, An Nahl Islamic School. Ketika getaran itu mengguncang gedung sekolah, tak urung membuat kepanikan seisi penghuninya. Spontan kami berhamburan keluar, menuju lapangan yang siang ini sangat terik. Kami para guru menenangkan anak yang menangis karena beragam alasan, ada yang ingat bundanya yang sedang bekerja di sebuah gedung di lantai 21, ada yang ingat adiknya, sebagian besarnya menangis karena takut. Alhamdulillah tak lama kemudian mereka mulai tenang. Memang ini adalah kali pertama bagi kami merasakan langsung getaran gempa di sini.

Kemudian para pimpinan memberikan arahan kepada kami, tentang apa yang harus kami lakukan. Bersama kami menuju Ecopark, tempat yang paling aman dalam kondisi  kami belum bisa memastikan akan ada gempa susulan ataukah tidak. Di Ecopark, siswa primary dan secondary antusias menyimak uraian Direktur Pendidikan Bapak Supangat yang membawa kekalutan mereka ke suasana yang fun. Ustadz Muhsin juga mengingatkan kami dengan menyentuh aspek religius dari sebuah bencana. Terakhir, arahan dari Mr. Awang dan Mr. Irfan terkait safety , apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana gempa bumi. Alhamdulillah, di balik sebuah bencana, ternyata menjadi sarana pembelajaran yang luar biasa bagi anak-anak.

Hingga jelang Ashar di Ecopark, kami kemudian beranjak menuju gedung kembali, untuk kemudian menjalankan sholat, dan mengantar siswa menuju kepulangan. Hujan deras sore ini semakin mengaduk perasaan kami tentang kuasa Nya bahwa seluruh kendali semesta ada di TanganNya.

Terakhir, saya posting juga tausiyah dari seorang ustadz, bahwa memang sebagai muslim kita harus mengimani, bahwa sebuah bencana tak lain adalah cara Allah untuk mengingatkan hamba Nya agar bersegera kembali dan memperbaiki diri dalam jalan kebaikan Islam.

________________________________________________________________________________

Ada Apa Dibalik Gempa ??

Oleh : Ustadz Fachrudin Nu’man, Lc

Peringatan ini adalah rahmat Allah atas kita semua, untuk menakut-nakuti manusia, supaya mereka mau kembali kepadaNya, mau memohon ampun kepadaNya, mau meninggalkan dosa-dosa mereka. Allah berfirman:

“Tidaklah Kami mengirim tanda-tanda kekuasaan Kami kecuali untuk menakut-nakuti”.(AlQuran surah Al Israa’ 59)

Berkata Qatadah:

“Sesungguhnya Allah menakut-nakuti manusia dengan apa yang Dia kehendaki dari tanda-tanda kekuasaanNya, supaya mereka mengambil pelajaran, atau mengingat Allah, atau kembali kepadaNya, telah diceritakan kepada kami bahwa kota Kufah telah terjadi gempa di zaman Abdullah bin Mas’ud maka beliau berkata: Wahai manusia sesungguhnya Allah menginginkan kalian untuk kembali maka kembalilah kepadaNya”.(Diriwayatkan oleh Ath-Thabary dalam tafsirnya 17/478)

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah, yang artinya:

“Dan terkadang Allah Subhanahu mengizinkan bumi untuk bernafas maka terjadilah gempa bumi yang dasyat, sehingga hamba-hamba Allah ketakutan dan mau kembali kepadaNya, meninggalkan kemaksiatan dan merendahkan diri dihadapanNya”.  (Miftah Daris Sa’adah 1/221)

Hendaklah kita bisa mengambil peringatan ini, mulai dari diri kita, kita ingatkan diri kita dengan bertaubat dari segala dosa dan kita ingatkan keluarga kita, kemudian kita ingatkan orang lain dengan menghidupkan amar ma’ruf nahi mungkar dan saling menasehati diantara kita.

 

Ransel Coklat

“Uups,,,” Rara menarik badannya ke belakang, ransel coklatnya hampir terlepas, ketika turun bus sekonyong-konyong ada pemuda yang lari dengan sangat kencangnya. Disusul  dua polisi yang sayangnya kurang gesit, bias jadi karena berat berlebih. Mustahil bisa menyusul pemuda tadi, batin Rara.

“Mba, tehnya dong beli, buat pelaris, dari pagi belum laku, “ tiba-tiba bocah lelaki 10  tahunan menyodorkan teh kemasan ke Rara. Rayuan abadi seorang pedagang, semua dibilang buat pelaris. Kalau bukan karena wajah memelasnya, Rara sudah menolak dari tadi, di ransel coklatnya saja masih utuh dua coffedrink. Tapi senang juga melihat raut riang  si bocah, saat Rara mengeluarkan lima ribuan dari dompetnya.

“Makasih ya Mba, “  si bocah tulus mengucapkannya sambil menatap dalam ke mata Rara. “Iya iya, sama-sama Dik, “ agak gugup Rara membalasnya.

“Duh, mana ya om Islah, panas lagi jam segini,” batin Rara.  Empat jam di dalam bus lumayan membuat pegal- pegal, karena persendiannya  tertekuk. Tulang-tulangnya bergemerutuk. Harus berbagi pula dengan seorang perempuan paruh baya yang ukuran badannya besar. Tak masalah sebenarnya kalau dia tidak menjatuhkan kepalanya saat  tertidur ke pundak Rara. Sudah dibangunkan, minta maaf, ehh pas tidur kepalanya balik lagi jatuh ke pundaknya. Ya sudahlah, mungkin ini jalan pahala. Batinnya menghibur diri. Inginnya dia meluruskan punggung yang masih terasa panas. Tapi apa daya. Dia harus mencari omnya yang sudah berjanji mau menjemput di terminal ini.

Rara menyebar pandangan ke semua sisi terminal. Siapa tahu om Islah sudah datang. Diraihnya HP dalam ransel, yang ternyata mati. “Pantes dari tadi ga bunyi,” batinnya. Rara yakin, om Islah juga bingung mencari karena tak bisa menghubunginya. Lelah, menyerah, dihampirinya bangku kayu panjang yang terlihat kokoh, mungkin dari bahan kayu jati. Tiga orang yang duduk di atasnya terlihat sangat nyaman. Jarang-jarang di terminal ada bangku  bagus.

“Permisi ya Bu, numpang duduk,” ujar Rara sopan ke seorang perempuan seusia mamanya.

“Oh, monggo-monggo mbak, cukup kok,” balasnya ramah, sangat ramah bahkan. “Mau ke mana, mbak,” tanya perempuan itu masih dengan senyumnya yang ramah. Bu Yati namanya. Bahkan menawarkan diri untuk mengantar Rara ke rumah eyangnya. Sebenarnya Rara mau, tapi pikir-pikir lagi, kasihan om Islah kalau nanti malah mencarinya ga keruan.

Mereka ngobrol ngalor ngidul, sampai Rara terkantuk-kantuk.

“Mba, istirahat saja ndak papa, nanti kalau ada omnya lewat pasti melihat to, nah nanti aku bangunin gitu.”

Rara mengangguk-angguk saja, ga kuat menahan serangan kantuknya. “Alhamdulillah, ada orang baik di tempat asing kayak begini,” batin Rara. Karena dia harus menjaga  7 juta uang di ranselnya. ATM rusak, bank libur, jadilah dia menjadi kurir untuk mengantar uang itu ke eyang. Darurat, tidak bisa ditunda. Orang tuanya pun sibuk diacara pernikahan keluarganya di Malang. Didekapnya ransel coklatnya. Erat sekali. Dia tertidur.

Tak lama terdengar suara ribut-ribut.

“Awas, jangan lari.. maling maling..!,” riuh teriakan orang-orang membuat Rara kaget dan terbangun. Sekilas Rara melihat anak penjual teh tadi berlari. Diikuti orang banyak menyusul di belakangnya.

“Ada apa sih ribut-ribut niy orang, ganggu tidurku saja,” jengkel belum pulas tidurnya. Rara tak peduli dengan kejadian heboh tadi. Bu Yati tak lagi di sebelahnya. Rara berpikir mungkin dia sudah naik bus yang ditunggunya. Rara rebahkan lagi punggungnya ke dinding tembok.Tapi dia  merasa ada yang aneh. “Hhaaahh… mana ranselku !!” teriak Rara. Tapi sekelilingnya sepi. Mungkin semua orang tertarik dengan kejadian tadi. Rara linglung, bingung harus bagaimana. Uang, uang, uang, eyang, mama, semua bayangan berkelebatan di otaknya. Badannya lemas seketika. Tak ada pilihan lain, dia menangis sejadi-jadinya.

Di kejauhan dilihatnya rombongan  tadi memasuki area terminal lagi. Makin mendekat ke arahnya. Ada anak penjual teh didampingi dua polisi. Perasaan Rara jadi ga enak. Kenapa ya? Jangan-jangan anak itu ditangkap polisi. Mereka makin dekat. Rara menghapus air matanya, dan merapikan  jilbab sekenanya.

“Betul mba ini yang punya ransel coklat ini?” selidik polisi yang  muda. Rara kaget bercampur girang bukan kepalang.

“Betul pak, betul,” secepat kilat diraihnya ransel itu. Dia periksa isinya.  Dimasukkan tangannya di balik baju-baju yang menumpuk. “Alhamdulillah, amplopnya masih rapi,” batin Rara penuh syukur. Rara mulai curiga bahwa anak penjual teh itu yang mengambil ranselnya.

“Jadi begini mba,  tadi anak ini yang melaporkan bahwa ransel mbak dicuri orang saat mbak tertidur, nah kami kejar orangnya, untung belum jauh dari area terminal. Mereka ternyata komplotan yang memang selama ini kami cari karena membuat resah penumpang di sini. Nah, mereka ini orangnya,”  jelas polisi yang tua sambil menarik paksa beberapa orang dari belakang kerumunan. Bagai petir disiang  bolong, Rara tak menyangka ternyata bu Yati yang mengambil ranselnya. Tak sedikitpun Rara membalas senyum kecut bu Yati yang nyatanya cuma pura-pura.

Bu Yati dan  dua laki-laki yang tadi juga duduk di bangku itu digelandang ke mobil petugas. Bergidik Rara mengingat bahwa ternyata tadi dia dikelilingi oleh para penjahat itu. Kemudian, Rara mengucapkan terimakasih yang dalam ke anak penjual teh tadi, Tono namanya. Masih sambil menunggu om Islah, Rara banyak bertanya pada Tono, tentang keluarga dan sekolahnya. Rara trenyuh. Tiba-tiba terbersit di benak Rara sebuah rencana untuk Tono, hitung-hitung sebagai ucapan terimakasihnya. Rara yakin eyang tidak akan menolaknya.

“Rara !!,” dari jauh om Islah melambaikan tangannya. Langsung Rara menarik  tangan Tono untuk ikut dengannya. Meski heran tapi Tono menurut. Terminal masih saja ramai. Sementara matahari mulai meredup.

 

__________________________________2013

 

 

 

Keputrian: Keteladanan Khadijah r.a

Jumat, 20 Januari 2018 kemarin, kebetulan mendapat amanah untuk berbagi materi siroh Ibunda Khadijah radhiyallahu ‘anha ke siswi-siswi kelas 5 dalam kegiatan keputrian.

Kita sangat paham, hampir semua sisi kehidupan beliau sangat layak untuk kita teladani. Seorang perempuan mulia, yang ketika masih hidup telah mengetahui akhir tempat kembalinya : SURGA, karena Allah telah mengabarkannya.

Banyak ternyata yang baru saya tahu setelah saya mendapat tugas berbagi cerita ini. Karena sudah pasti memaksa saya untuk membaca lebih banyak dan dalam tentang beliau. Dari yang saya baca, ini salah satu bagian yang sangat mengharukan. Membuat kita merenung dan bermuhasabah tentang sesuatu yang pasti akan menghampiri kita nanti, kematian, dan bekal apa yang kita siapkan untuk menyambutnya.

Berikut nukilannya….

__________________________________

Khadijah adalah istri pertama Rasulullah. Orang yang pertama kali beriman kepada ALLAH dan kenabian Rasulullah. Orang yang sangat berjasa bagi dakwah Rasulullah dan penyebaran agama Islam.

Khadijah wafat pada hari ke-11 bulan Ramadlan tahun ke-10 kenabian, tiga tahun sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Khadijah wafat dalam usia 65 tahun, saat usia Rasulullah sekitar 50 tahun.

PERMINTAAN TERAKHIR

Diriwayatkan, ketika Khadijah sakit menjelang ajal, Khadijah berkata kepada Rasululllah SAW,

Aku memohon maaf kepadamu, Ya Rasulullah, kalau aku sebagai istrimu belum berbakti kepadamu.

Jauh dari itu ya Khadijah. Engkau telah mendukung dawah Islam sepenuhnya, jawab Rasulullah

Kemudian Khadijah memanggil Fatimah Azzahra dan berbisik,

Fatimah putriku, aku yakin ajalku segera tiba, yang kutakutkan adalah siksa kubur. Tolong mintakan kepada ayahmu, aku malu dan takut memintanya sendiri, agar beliau memberikan sorbannya yang biasa untuk menerima wahyu agar dijadikan kain kafanku.

Mendengar itu Rasulullah berkata,

Wahai Khadijah, ALLAH menitipkan salam kepadamu, dan telah dipersiapkan tempatmu di surga.

Ummul mukminin, Khadijah pun kemudian menghembuskan nafas terakhirnya dipangkuan Rasulullah. Didekapnya istri Beliau itu dengan perasaan pilu yang teramat sangat. Tumpahlah air mata mulia Beliau dan semua orang yang ada disitu.

KAIN KAFAN DARI ALLAH

Saat itu Malaikat Jibril turun dari langit dengan mengucap salam dan membawa lima kain kafan. Rasulullah menjawab salam Jibril dan kemudian bertanya,

Untuk siapa sajakah kain kafan itu, ya Jibril?

Kafan ini untuk Khadijah, untuk engkau ya Rasulullah, untuk Fatimah, Ali dan Hasan jawab Jibril. Jibril berhenti berkata dan kemudian menangis.

Rasulullah bertanya, Kenapa, ya Jibril?

Cucumu yang satu, Husain tidak memiliki kafan, dia akan dibantai dan tergeletak tanpa kafan dan tak dimandikan sahut Jibril.

Rasulullah berkata di dekat jasad Khadijah,

Wahai Khadijah istriku sayang, demi ALLAH, aku takkan pernah mendapatkan istri sepertimu. Pengabdianmu kepada Islam dan diriku sungguh luar biasa. ALLAH maha mengetahui semua amalanmu.

“Semua hartamu kau hibahkan untuk Islam. Kaum muslimin pun ikut menikmatinya. Semua pakaian kaum muslimin dan pakaianku ini juga darimu.

“Namun begitu, mengapa permohonan terakhirmu kepadaku hanyalah selembar sorban?

Tersedu Rasulullah mengenang istrinya semasa hidup.

Seluruh kekayaan Khadijah diserahkan kepada Rasulullah untuk perjuangan agama Islam. Dua per tiga kekayaan Kota Mekkah adalah milik Khadijah. Tetapi ketika Khadijah hendak menjelang wafat, tidak ada kain kafan yang bisa digunakan untuk menutupi jasad Khadijah.

Bahkan pakaian yang digunakan Khadijah ketika itu adalah pakaian yang sudah sangat kumuh dengan 83 tambalan diantaranya dengan kulit kayu.

Rasulullah kemudian berdoa kepada ALLAH.

Ya ALLAH, ya Ilahi Rabbi, limpahkanlah rahmat-Mu kepada Khadijahku, yang selalu membantuku dalam menegakkan Islam. Mempercayaiku pada saat orang lain menentangku. Menyenangkanku pada saat orang lain menyusahkanku. Menentramkanku pada saat orang lain membuatku gelisah. Oh Khadijahku sayang, kau meninggalkanku sendirian dalam perjuanganku. Siapa lagi yang akan membantuku?

Tiba-tiba Ali berkata, Aku, Ya Rasulullah!

PENGORBANAN KHADIJAH r.a SEMASA HIDUP

Dikisahkan, suatu hari ketika Rasulullah pulang dari berdakwah, Beliau masuk ke dalam rumah. Khadijah menyambut, dan hendak berdiri di depan pintu. Ketika Khadijah hendak berdiri, Rasulullah bersabda,

Wahai Khadijah tetaplah kamu ditempatmu.

Ketika itu Khadijah sedang menyusui Fatimah yang masih bayi.

Saat itu seluruh kekayaan mereka telah habis. Seringkali makananpun tak punya. Sehingga ketika Fatimah menyusu, bukan air susu yang keluar akan tetapi darah. Darahlah yang masuk dalam mulut Fatimah r.a.

Kemudian Beliau mengambil Fatimah dari gendongan istrinya lalu diletakkan di tempat tidur. Rasulullah yang lelah seusai pulang berdakwah dan menghadapi segala caci maki dan fitnah manusia itu lalu berbaring di pangkuan Khadijah.

Rasulullah tertidur. Ketika itulah Khadijah membelai kepala Rasulullah dengan penuh kelembutan dan rasa sayang. Tak terasa air mata Khadijah menetes di pipi Rasulullah. Beliau pun terjaga.

Wahai Khadijah Mengapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku, Muhammad? tanya Rasulullah dengan lembut.

Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan. Namun hari ini engkau telah dihina orang. Semua orang telah menjauhi dirimu. Seluruh kekayaanmu habis. Adakah engkau menyesal wahai Khadijah bersuamikan aku, Muhammad?” lanjut Rasulullah tak kuasa melihat istrinya menangis.

Wahai suamiku. Wahai Nabi ALLAH. Bukan itu yang kutangiskan.” jawab Khadijah.

“Dahulu aku memiliki kemuliaan. Kemuliaan itu telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku adalah bangsawan. Kebangsawanan itu juga aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku memiliki harta kekayaan. Seluruh kekayaan itupun telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya.

“Wahai Rasulullah. Sekarang aku tak punya apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini. Wahai Rasulullah. Sekiranya nanti aku mati sedangkan perjuanganmu ini belum selesai, sekiranya engkau hendak menyebrangi sebuah lautan, sekiranya engkau hendak menyebarangi sungai namun engkau tidak memperoleh rakit pun atau pun jembatan.

“Maka galilah lubang kuburku, ambilah tulang belulangku. Jadikanlah sebagai jembatan untuk engkau menyeberangi sungai itu supaya engkau bisa berjumpa dengan manusia dan melanjutkan dakwahmu.

“Ingatkan mereka tentang kebesaran Allah. Ingatkan mereka kepada yang hak. Ajak mereka kepada Islam, wahai Rasulullah.

Karena itu, peristiwa wafatnya Khadijah r.a sangat menusuk jiwa Rasulullah. Alangkah sedih dan pedihnya perasaan Rasulullah ketika itu karena dua orang yang dicintainya yaitu istrinya Khadijah r.a.dan pamannya Abu Thalib telah wafat.

Tahun itu disebut sebagai Aamul Huzni (tahun kesedihan) dalam kehidupan Rasulullah.

(oleh Ustadz Zainul Hakim)

Kitab Al Busyro, yang ditulis Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliky al Hasani.

Hope and Dream

4820950b2f78233e7aad508d04f072bf--hope-quotes-quality-quotes

Satu-satu, mereka meninggalkan tempat rindang itu. Wangi aroma mawar bergumul dengan harum kenanga merebak. Seolah mewakili ucapan terimakasih telah sudi mendoakan dan mengantarnya ke rumah abadi. Suara gesekan rumpun bambu dan hembusan angin yang tiba-tiba menderu kencang, tak ayal membuat beberapa tangkai kamboja kuning meliuk-liuk gemulai menuju tanah. Gemericik air sungai pun meluncur dari bebatuan berlumut. Namun, riuh suara alam tadi tak kemudian merubah suasana di sana. Kekal dalam sunyi. Sekalipun banyak kerabat masih betah mengitari pusaranya.

======================================

Masih teramat pagi memang. Angin segar berhembus lembut. Damai, Baru terlihat segelintir anak yang melepas canda, bermain sepeda dan sekedar duduk di sisi lapangan. Sebagai seorang guru yang rumahnya paling jauh dari sekolah, yang butuh waktu 2 jam untuk sampai on time, jam 6.15 sudah di sekolah adalah prestasi besar. Pantas tadi satpam Pak Subihi dan office boy Mas Cecep terlihat kaget melihatnya, karena biasanya Tika selalu berlari kecil menuju gerbang sekolah. Ustad Zainal pun menyapanya, dengan tambahan kata tumben. Apalagi Ms Iren, yang langsung menebak pasti ada kerjaan yang tertunda dan harus buru-buru dikumpulkan pagi ini. Tika hanya membalas dengan tertawa kecil sambil mengingat kejadian saat menunggu angkutan umum tadi. Saat menunggu sambil membaca buku “Hope and Dream” tiba-tiba ia dikejutkan oleh panggilan nyaring dari seorang gadis sebayanya.

“Teh Tika !! “ yang keruan membuat banyak kepala menoleh ke arahnya. “Teh, masih ingat saya kan?” tanyanya yakin. “Mmm, maaf siapa yaa, maaaf,” jawab Tika merasa tak enak. “Aduuh Teh, ini saya Ira, dulu Teteh kos di rumah orang tua saya di Dermaga waktu masih kuliah di Bogor,” jelasnya. Otomatis Tika langsung ingat. Bagaimana mungkin lupa dengan masa-masa itu. Kuliah, praktikum, organisasi, ngaji, nyantri semua bergilir menunggu jatah dari hari ke hari. Buatnya sangat dalam indahnya. “Ooooh iyaa, Ira apa kabar, tambah cantik lho dengan jilbab, makasih ya masih ingat saya,” ujar Tika. “Mana bisa lupa dengan Teteh yang baik dan pintar ini, dulu kan sering bantu Ira ngerjain PR kimia,” balasnya tulus. Banyak cerita yang ingin mereka bagi. Ternyata orang tua Ira pindah ke Jakarta. Jadilah mereka berdua melanjutkan cerita dalam taksi, karena ternyata satu tujuan ke arah tempat kerja Ira juga, Cibubur. Untung buat Tika pastinya.

“Assalamu’alaikum, Ms Tika….” sapa riang Putri, Lubna, Kunthi dan Malika saat Tika membuka pintu kelas. Mereka memang rajin datang awal waktu. “Wa’alaikumsalaam anak-anak maniiis…Kabar baik kaan kalian hari ini ?” balas Tika tak kalah riang. Menyusul Rio dengan senyum khasnya yang tipis tapi manis, dan rambut lebih rapi setelah kemarin diingatkan karena mulai sedikit panjang. Inilah salah satu alasan yang membuat Tika selalu merasa segar saat beraktivitas di sekolah,.Melihat, mendengar, dan merasakan keceriaan mereka membuat pusingnya selalu enyah, nyeri-nyeri yang menggigit tulang juga lari entah ke mana… sekalipun dari rumah membawa fisik yang sering lunglai karena aktivitas yang menumpuk.,Satu hal juga yang membuatnya tak pernah bosan belajar dan mengajar di sini adalah sebuah buku pemberian seseorang, “Hope and Dream” judul buku itu. Sambil termangu dia keluarkan buku itu dari ransel coklatnya. Memang bukan segalanya, tapi langkahku sampai di sini berawal dari buku ini, batin Tika pedih. Tak sadar matanya terpejam.

As a teacher you may teach a class, but each child should still feel uniquely taught,” pesannya ramah, tapi tegas. Tika tahu betul itu adalah ucapan seorang pemerhati pendidikan, Robert John Meehan, tapi mendengarnya dari mulut ibu jangkung satu ini membuatnya seolah pertama kali mendengar sekaligus lebih memahami maknanya. Karena meskipun Tika lulusan Teknologi Pertanian, dia punya perhatian yang besar terhadap proses pendidikan anak, suka berdekat-dekat dengan anak-anak, terlebih setelah diamanahkan menjadi koordinator Taman Pendidikan Qur’an di masjid perumahannya. Itu awal dia bertemu dengan Bu Risa, Kepala Sekolah. Hari-hari selanjutnya adalah hari yang penuh kesibukan, karena Tika positif diterima sebagai guru bidang studi IPA untuk kelas 5 dan 6.

Tika sadar diri bahwa dia sangat minim pengalaman dalam mengajar, sehingga hampir semua waktu luang dihabiskan untuk berdiskusi dengan Bu Risa dan beberapa guru senior lainnya. Untung dia punya pimpinan yang selalu membuka diri dengan semua anak buahnya. Selain smart, beliau juga humble. Banyak ilmu baru yang Tika dapat. Termasuk tentang keinginan Bu Risa bahwa sekolah ini harus memberi kesempatan bagi siswa berkebutuhan khusus. Draft lengkap tentang konsep itu sudah rapi disiapkan. Tinggal menunggu waktu tepat menghadap pihak yayasan. Banyak ‘rahasia’ tentang sekolah yang Tika tahu lebih dulu dibanding teman guru lain. Semua mengalir saja dari lisan Bu Risa. Mungkin dia percaya padaku, batin Tika. Bisa dibilang, apapun akan beliau lakukan untuk kemajuan pendidikan. Ini yang kemudian sering membuat sakit sirossisnya kambuh, karena abai terhadap asupan makanan sementara pikiran dan badan harus bekerja bersamaan. Sayangnya, kalau bisa dibilang itu sebuah kekurangan, sampai usia 37 tahun dia belum memiliki pendamping. Kata teman-teman guru, orang tuanya yang ningrat terlalu ketat dengan kriteria calonnya. Hushh, batin Tika sendiri, sadar dia mulai menggunjing dalam hati. “Tika, ini ada buku bagus untuk kamu, baca ya.” “Ibu yakin kamu akan punya daya juang yang tinggi setelah membaca buku ini,” ujarnya dengan nada seperti biasa, ramah tapi tegas. Bersinar mata Tika melihat sebuah buku berjudul “Hope and Dream” itu.

Setelah hari itu, tak pernah ada waktu luang yang tak terisi dengan bacaan itu. Kumpulan cerita yang disajikan sungguh menggugah. Guru-guru dengan sisi-sisi kehidupan yang sangat berwarna. Suka, duka, mimpi, harapan, capaian, termasuk kegagalan terangkai dalam kisah yang menurut Tika sangat mengharu biru. Ada satu cerita yang sangat menarik untuk Tika, Dua Anak karya Weni Suryandari. Bagaimana seharusnya orang tua merefleksi diri tentang bagaimana selama ini menghargai dan mencintai buah hatinya sekalipun mereka memiliki kekurangan. Anak kita adalah cermin diri kita. Itu pesan kuat dari kisah nyata ini. Betul kata Bu Risa, setelah melahap buku itu seolah ada dorongan luar biasa dari diri Tika untuk terus mengabdi sebagai seorang pendidik.

Tiga hari, baru sadar Tika ternyata tak pernah bertemu dengan Bu Risa di sekolah. Mau sms, segan, meskipun sering berdiskusi di sekolah tapi rasanya tak pantas menanyakan ketidakhadiran dari pimpinannya. Tanya sana sini, baru Tika tahu bahwa sirosis hati Bu Risa kambuh dan harus istirahat total dari semua aktivitasnya. Tika dan guru-guru lain juga baru tahu bahwa selama ini ternyata Bu Risa menyembunyikan sakitnya yang memang sudah teramat parah. Tertutup oleh semangatnya membangun sekolah. Dan itu berhasil dilakukan. Sekolah ini makin mendapat tempat istimewa di hati orang tua. Dan sudah pasti peminatnya makin tahun meningkat. Itu sebagian cerita yang dituturkan dengan linangan air mata dari ayah dari Bu Risa saat guru-guru menjenguk. Menyesal kenapa harus mengalah dengan kemauan putrinya. Tika dan Iren punya sedikit kesempatan untuk melihatnya dari luar kaca ICU. Terpejam, kurus, pucat dan alat-alat yang rumit menggelayuti tubuhnya yang tertutup selimut rapat. Deras mengalir air mata Tika. Iren pun begitu. Takdir Allah pun bicara.

“Ms. Tika… hayoo ketiduran yaa..” Tika dikejutkan oleh suara Dimas. Buku yang digenggamnya terjatuh. “Ya Allah, lama juga tadi aku melamun. Untung hari ini aku mengajar siang,” batin Tika. Bergegas Tika menuju mushola sekolah untuk sholat Dhuha. Akan dilantunkannya doa terbaik untuk teman sekaligus pimpinan terbaiknya.

(“As a teacher you may teach a class, but each child should still feel uniquely taught”)

_______2013

Jam

8338680-1x1-large

Kalau bisa dibilang sebagai sebuah kelebihan, maka salah satu kelebihan ayahku adalah kesukaannya pada jam. Jam dinding. Semua ruang dalam rumah ada jam dinding. Terkecuali dapur dan kamar mandi. Bahkan di gudang pun ada jamnya, tapi jam dinding bekas yang sudah rusak. Bila sudah bosan dengan model lama, maka tanpa persetujuan siapapun ayah pasti langsung meluncur ke toko langganannya. Waktu aku kecil, pernah protes dengan jam dinding keemasan di ruang tamu yang menurutku terkesan agak kampungan, tapi ayahku tak bergeming. “Kamu harus belajar menghargai selera orang lain, Nduk,” pesannya tenang. Tapi efeknya, sejak itu ayah malah mengajak aku memilih jam sendiri untuk di kamarku. Sudah pasti aku senang, karena bosan sekali dengan jam merah bergambar burung merak di tengahnya. Jadilah aku memilih jam berbentuk Hello Kitty kesukaanku. Kenangan sekitar 15 tahun yang lalu itu masih sangat melekat. Bahkan gurat kepuasan dengan bibir tersungging di mukanya saat aku menemukan jam kesukaanku, masih ku ingat betul. Ayah…

Sepulang dari pemakaman, aku terpekur di ruang ini, sendiri. Belum lagi genap sebulan hilang sedihku karena ibu pergi. Kini ayah menyusul, meninggalkan nelangsa yang lebih dalam. Sebagai bungsu, kakak-kakakku sangat mafhum dengan kesedihanku. Terlebih, menjelang pergi ayah sangat bersemangat dengan rencana keluarga kakak tingkatku, yang akan melamarku. Dukaku berlipat-lipat. Jam di depanku terus berdetak. Tak peduli bahwa sang pemiliknya telah pergi. Tak ada lagi yang akan menelponku tiap jelang subuh. Sekedar mengingatkanku untuk tidak lupa bersyukur melalui qiyamul lail. Tak ada lagi yang ingatkan aku untuk berhati-hati dalam hal makanan. Karena apa lagi musuh seorang pengidap tipes, apalagi anak kos, selain berhati-hati dalam hal itu. Tak ada lagi doa yang terlantun untukku jelang sidang skripsi. Tak ada lagi nanti yang akan mengganti baterai jam-jam di rumah ini bila mati. Tapi semoga kakak iparku mau memperhatikan itu. Ayah…

Berdekat-dekat dengan ayah adalah hal yang indah buat kami, anak-anaknya. Sekalipun kami sudah menginjak remaja. Apalagi yang kami tunggu selain cerita! Ya, karakter seorang pendidik sangat melekat padanya. Sabar, penyayang, menasehati tanpa terkesan menggurui, menjadi magnet buat kami. Berimbang dengan ibu yang tegas, tanpa tedheng aling-aling langsung menunjukkan apa kesalahan kami, kalau memang bersalah. Gak ada yang bisa protes kalau ibu sudah bicara. Hmm, pasangan yang saling melengkapi memang. Ketika ibu marah karena laku kami, ayah akan menghiburnya. Ibu pun luluh, tersenyum. Mereka sungguh harmonis.

Satu pesan ayah yang kuat di ingatanku adalah tentang waktu. Suatu sore ditemani singkong goreng hangat dan secangkir kopi buatan ibu, lentur mengalir ceritanya. Aku dan kakak-kakakku seperti tersihir. Diam. Mata kami lurus tertuju pada kacamata yang menggantung di rautnya yang sedikit mengkilap karena pantulan senja. Mungkin ikatan yang terjadi antara ayah dan jam-jam kesukaannya, membuat cerita yang sebenarnya biasa menjadi begitu tidak biasa. Mungkin juga karena tingginya hasrat agar kelak anak-anaknya menjadi orang yang baik dan bermanfaat. Mungkin… Kami hanya menyimak.

“Le, Nduk,, ujarnya. Menjalani hari bagi setiap orang yang masih hidup adalah sebuah keinginan bahkan keharusan. Kecuali mereka yang sudah menyerah dengan keras dan peliknya hidup, sudah pasti menjadi keterpaksaan. Hembus nafas, detak nadi, pancar mata, selidik telinga, dan gerak-gerik rangka kita berpelukan dengan gilasan waktu. Detik-detik terhimpun ke menit. Menit-menit menuju jam. Jam-jam menempuh hari. Itulah hidup kita. ‘Cuma’ kumpulan waktu, kumpulan hari yang datang berlalu. Mungkin kita pernah bilang hari baik, hari buruk… bukan harinya yang baik atau buruk sebenarnya. Tapi bagaimana perjalanan kita dihari itulah yang kemudian menyebabkan kita mencap hari. Padahal yang baik atau buruk adalah pengalaman yang kita lalui pada hari itu. Sangat bisa jadi, bahwa yang baik atau buruk justru diri kita sendiri. Bahkan ketidaksukaan sebagian orang pada hari tertentu, senin misalnya, menjadi sebuah pemakluman bahwa sah-sah saja dihari itu seseorang merasa lunglai tak bergairah saat beraktivitas. Semoga kita adalah orang yang menganggap bahwa semua hari adalah baik, karena hari anugerah dari Gusti Allah untuk kita. ”

“Le, Nduk,, hidup terwakili oleh kata usia. Usia yang kita lalui adalah kumpulan waktu. Hidup kita terbatas, sementara kehidupan itu sendiri tak berbatas. Kekal justru. Hidup kita terbatas. Batasnya bukan karena tuanya usia, tapi karena ajal dari Gusti Allah. Sehingga kematian datang tak bersyarat. Tua bukan syaratnya, karena banyak yang muda justru mendahului, bahkan balita. Ingat anaknya Pakdhe Yono. Sakit bukan pula syarat, karena banyak yang sehat justru lebih dulu menemui takdir Gusti Allah. Tapi kita hidup bukan untuk menunggu takdir kematian. Justru yang menunjukkan kita hidup adalah untuk apa waktu yang kita habiskan sebelum takdir menjemput. Maka jadilah orang yang bermanfaat. Jadilah orang yang memberi. Kalau kita sudah pergi, apa yang kita lakukan akan diingat atau bahkan dikerjakan oleh orang yang menyayangi kita. Sudah pasti itu akan menjadi amal jariyah untuk kita nantinya. Jadi Le, Nduk, baik buruknya diri kita tergantung pada baik tidaknya kita melalui waktu kita.”

“Ik, sudah mau maghrib, ayo mandi siap-siap sholat berjamaah sama yang lainnya,” mba Titik membangunkanku. Aku masih diam. Ayah, tenanglah dalam alammu. Kami akan selalu kenang dan jalankan kebaikan yang telah engkau tanamkan pada kami. Ya, Rabb limpahi dia dengan kasih dan ampunan-Mu.. Aamiin..

____________2013