Bismillah…

Alhamdulillah untuk hari ini…

Saat takziyah, apa lagi yang terlintas di hati selain rasa syukur bahwa kita masih diberi kesempatan memperbaiki amal diri. Tak ada yang lain. Manusia memang tercipta dengan ragam kelemahan. Pelupa, salah satunya. Tapi tak kemudian ini mentolerir sebuah kelemahan adalah kewajaran ya..

Lupa. Dalam kondisi tertentu merupakan nikmat. Ya, bagaimana mungkin kita bisa bangun, tersenyum, melangkah lagi menjalani hari, jika segala kengerian, duka mendalam, pengalaman buruk, rasa sakit yang pernah dialami masih menjejal di benak kita. Mungkin memang tak semuanya terhapus. Tapi karena terbatasnya memori, ingatan lama kita akan tergeser dengan kumpulan peristiwa baru. Nikmat, bukan. Alhamdulillah…

Karena tabiat pelupa itulah (mungkin) Allah berkehendak menghadirkan peristiwa penting secara berulang di depan mata kita. Untuk apa? Sebagai pengingat.

Kematian. Dengan kuasa-Nya, Allah tunjukkan betapa lemahnya manusia. Orang tua, saudara, kerabat, tetangga, public figure, pernah menunjukkan bagimana akhir dari jatah hidup mereka, dengan beragam cara, kepada kita yang masih hidup. Ya, ajal. Waktu berselang menjadikan kita lupa. Allah hadirkan peristiwa yang sama, kematian. Datang berulang, menjadi penyentak, pengingat, tentang satu hal : dunia kita tak abadi, bersiaplah untuk yang sudah pasti, akhirat.

Sebagai makhluk-Nya, terlebih mukmin, keraguan apalagi yang kemudian membuat kita tak bergegas jika Allah mengingatkan kita melalui peristiwa penting ini : kematian.

(setelah takziyah di Montreal, Kota Wisata)

 

 

Advertisements